Oleh: Panggih Raharjo | 16/05/2011

8 KEBOHONGAN IBU

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak
laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan
sebagian
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi
nya ke piringku, ibu berkata :
“Makanlah nak,
ibu tidak lapar”

———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA


Ketika
aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari
ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhanku. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang lezat. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Melihat ibu seperti itu, hatiku tersentuh, lalu memberikan sebagian lauk ikanku kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, lalu ia berkata : “Makanlah nak, ibu tidak suka makan ikan”.

————————-KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA


Sekarang aku sudah masuk SM
A, demi membiayai sekolahku dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis buatannya untuk dijual, dan dari hasil penjualan itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi keperluan hidup. Dan ketika tengah malam, aku bangun dari tempat tidurku, dan melihat ibu masih bertumpu duduk dengan
gigihnya melanjutkan pekerjaannya
itu. Lalu aku berkata :
“Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja
lagi. Ibu
tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak,
ibu tidak mengantuk.
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA


Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi
ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang
tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam.
Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh dingin yang sudah disiapkan dalam botol untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh keringat, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Dan ibu berkata : “Minumlah nak, ibu tidak haus!”

———-KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

 

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia
harus membiayai keperluan hidup
kami sendirian. Kehidupan keluarga kami pun
semakin susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi.
Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka,
lalu ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”

———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA


Setelah kakakku tamat dari
Universitas dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun dari pekerjaannya sehari-hari. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk tetap pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayuran untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu bersikeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut untuk biaya kuliahku. Dan ibu berkata : “Ibu ada duit”.

———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM


Setelah lulus
S1 dari Kuliahku, aku pun kemudian memperoleh biasiswa S2 di sebuah Universitas Amerika Serikat. Setelah lulus dan mendapatkan gelar Master, aku pun akhirnya diterima bekerja di perusahaan ternama di Amerika. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati,
bermaksud tidak mau menyusahkan anaknya, lalu ia berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal di negara orang nak“.

—-—————-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH


Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kan
ker dan harus
dirawat di
rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik
langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang
kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum
yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibu sehingga ibu terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu yang tegar dengan tenang berkata : “Jangan menangis anakku, Ibu tidak merasakan sakit”.

———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.


Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup
matanya untuk yang terakhir kalinya.


Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas
budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata
“MENYESAL” di kemudian hari.

“Terima kasih ibu..!”


Responses

  1. Ibu,,,,,,terima kasih Ibuu..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: